Showing posts with label Success Story. Show all posts
Showing posts with label Success Story. Show all posts

Friday, June 18, 2010

Carrefour acquired Trans Corp

Trans Corp. acquired 40 percent stake in PT Carrefour Indonesia, becoming the largest single shareholder. The value of the acquisition it self ranges from U.S. $ 300-400 million or around Rp 3 trillion.

Trans Corp's acquisition of the funds to do the loan from 4 banks. "We can from a consortium of four foreign banks, Credit Suisse, Citibank, JP Morgan, ING and Commercial Bank," said President Commissioner of PT Carrefour Indonesia, Chairul Tanjung told reporters in Bank Mega, Jakarta (17 / 4).

your ad here

Thursday, May 27, 2010

Trump Way

Trump was born on June 14, 1946 in Queens, New York as the son of Fred Trump, development experts and marketing Real Estate in New York. He has three siblings, one male and two female. Oldest older sister Maryanne Trump Barry he is, a federal judge.

He never attended school at The Kew-Forest School in Forest Hills, Queens, but after the chaos that happened there at the time he was 13 years, Donald parents sent him to New York Military Academy in the hope that Donald will be tough. It was running smoothly. Donald won academic awards, playing football in 1962, and baseball from 1962 to 1964 and captained the baseball team in 1964. Ted Tobias, a well-known baseball coach gives the Coach's Award to Donald in 1964. Once promoted as an officer-captain during his senior S4, Donald and an officer of First Sergeant Jeff Donaldson to form groups of officers.

your ad here

Friday, November 14, 2008

Ustad Lihan: Berbisnis dengan Syariah

JIKA ada keberuntungan, maka tidak akan euforia menerimanya, karena itu datangnya dari Allah SWT. Begitu pula jika meraih sukses, ungkapan syukur dan ikhlas kemudian berbagi dengan sesama adalah hal utama yang perlu dilakukan.


Itulah semboyan jitu pengusaha muslim asal Banjarbaru, Ustad Lihan. Sosoknya sebagai pekerja keras tetapi sederhana dan hidup apa adanya memang menjadikannya sosok yang patut jadi inspirasi pebisnis Islami. “Tegar!” tegasnya seraya mengatakan, “orang bisnis harus tegar dan mempunyai etos kerja, semangat kerjanya harus tinggi, di samping itu kita harus menjalaninya dengan Lillahi Ta’ala” ujarnya saat Banjarmasin Post bersilaturahmi ke rumah sekaligus kantornya di kawaan Cindai Alus Rt 2 Martapura. Berawal dari hanya sebagai ustad di Ponpes Darul Hijrah Banjarbaru dan perantara jual beli sepeda motor 1998 lalu, Ustad Lihan kini mempunyai beberapa usaha yang tergabung dalam PT Tri Abadi Mandiri yang bergerak di berbagai bidang usaha.
Sebut saja perdagangan Intan, Konsultan, wedding organizer, franchise restoran hingga toko permata yang mengantarkannya menjadi ‘miliarder’ baru. Bisnis trading atau perdagangan intan Ustad Lihan memang maju pesat. Ia telah menuai manis dari kerja kerasnya. Sekarang orang-orang berdecak kagum padanya. “Dulu saya sangat getir menghadapi hidup, saya berusaha keluar dari ketidakmampuan, karena bagi saya orang Islam harus berharta. Saya tidak harus sedih, saya mesti kerja keras!," tegas lelaki kelahiran Lianganggang, 9 Juli 1974 ini mengenang masa silamnya.
Kalender menunjukkan 1998. Di tahun ini seorang Lihan mengawali jejak usahanya sebagai perantara pedagang sepeda motor di Banjarmasin sambil menjadi Ustad di Ponpes Darul Hijrah.
“Tetapi ini cuma berlangsung setahun karena permintaan menurun. Karena itu saya lalu beralih ke profesi lain yakni berdagangan intan kecil-kecilan dengan memakai modal orang lain,” papar alumnus Ponpes Darul Hijrah Banjarbaru ini.
Sejak itulah, Lihan mulai mengenal perdangan intan yang juga hasil Banua ini. Walaupun fee-nya sedikit, tetapi membuatnya makin semangat. “Sayang, saat itu bos yang juga pemegang keuangannya melakukan penggelapan uang. Jadinya, mulai 2001 lalu mulai jualan sendiri dengan modal kecil,” jelasnya lagi.
Ustad Lihan tidak cepat merasa puas dalam berbisnis. Dengan bekal kerja kerasnya, ia kembangkan bisnisnya dengan nama PT Tri Abadi Mandiri di 2004 bidang lain seperti franchise makanan di Banjarmasin dan Banjarbaru.
Kemudian mendirikan cabang PT di beberapa daerah seperti Balikpapan, Jakarta, Bogor, Bandung, Malang dan Lampung. Bisnis adalah hobi yang menyenangkan Ustad Lihan. Terlebih ketika perusahan itu miliknya sendiri, sehingga ia merasa sangat nikmat menjalaninya.
Ia mengaku bahagia dapat membuka lapangan kerja. “Semua saya jalani karena mencari ridho Allah SWT,” kata ayah dari Nur Raudhi Jahria dan Aini Mayan Fa’Ani.
“Kita tak bisa bilang jadi pebisnis terbik. Kita cuma ingin ikuti syari’at-Nya saja. Kalau dapat untung besar, bersyukur, ya Allah nikmat-Mu sangat besar padaku, kemudian kita bagi kepada yang layak menerimanya. Bertambah besar sedekah kita, Insya Allah banyak pahalanya,” jelasnya.
Baginya, bekerja harus Lillahi Ta’ala. Berbisnis tidak semata-mata untuk keuntungan, melainkan juga untuk ibadah. Sebagai sosok pengusaha muslim, ia menegaskan pentingnya dekat dengan Allah SWT.
Ia berusaha menjalankan ibadah dengan tertib kemudian berbakti kepada orangtua, keluarga maupun saudara-saudara, hubungan dengan teman-teman, setelah itu baru berbisnis. “Jadi, bisnis mempunyai kekuatan di hamblum minannas supaya berkah,” katanya

Biodata
Nama : Lihan
TTL: Lianganggang, 9 Juli 1974
Pekerjaan : Wiraswasta (Owner PT Tri Abadi Mandiri)
Alamat : Cindai Alus RT 2 RW 1 Martapura
Orang Tua : H Bahrie (Alm) - Siti Aisyah H Bahrie (Alm) - Siti Aisyah
Riwayat Pendidikan :
- SDN Jaho Kerten Solo (1986)- SDN Jaho Kerten Solo (1986)- Mtsn Kelayan Banjarmasin (1990)- SDN Jaho Kerten Solo (1986)- Ponpes Darul Hijrah (1995)

sumber: Lihan.net
your ad here

Monday, October 27, 2008

Chairul Tanjung: Sukses Bisnis di Saat Krisis

Belakangan ini, Chairul Tanjung adalah sosok yang paling banyak disebut ketika berbicara mengenai peta baru pengusaha besar nasional. Ia banyak disebut sebagai the rising star.
Pengusaha pemilik Para Group ini berhasil melakukan lompatan bisnis yang spektakuler justru ketika ekonomi masih dilanda badai krisis. Lompatan besar bermula ketika ia memutuskan untuk mengambil alih kepemilikan Bank Mega pada 1996 lalu.
Berkat tangan dinginnya, bank kecil dan sedang sakit-sakitan yang sebelumnya dikelola oleh kelompok Bapindo itu kemudian disulap menjadi bank besar dan disegani. Pada akhirnya bank ini pun menjadi pilar penting dalam menopang bangunan Para Group. Dua pilar lain adalah Trans TV dan Bandung Supermall.
Sebagai sosok pengusaha sukses yang kini langka, Chairul di kalangan teman-teman dekatnya sering dijuluki sebagai The Last of The Mohicans. Sebutan ini mengacu pada sebuah judul film terkenal produksi Hollywood beberapa tahun lalu yang menceritakan kisah penaklukan kaum kulit putih terhadap bangsa Indian di Amerika Serikat sana. Pada akhirnya, bangsa asli yang sebelumnya menjadi tuan tanah dan penguasa wilayah itu kemudian semakin terpinggir dan menjadi sosok langka. Namanya saja sebutan berbau joke sehingga tetap atau tidak penting.
Yang jelas Chairul bukan tergolong pengusaha "dadakan" yang sukses berkat kelihaian membangun kedekatan dengan penguasa. Mengawali kiprah bisnis selagi kuliah di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, sepuluh tahun kemudian ia telah memiliki sebuah kelompok usaha yang disebut Para Group. Kelompok usaha ini dibangun berawal dari modal yang diperoleh dari Bank Exim sebesar Rp 150 juta. Bersama tiga rekannya yang lain, ia mendirikan pabrik sepatu anak-anak yang semua produknya diekspor. "Dengan bekal kredit tersebut saya belikan 20 mesin jahit merek Butterfly," ujarnya suatu saat kepada Eksekutif.
Kini pengusaha kelahiran 16 Juni 1962 itu menjadi figur sukses yang sangat sibuk. Maklum, selain sibuk mengurus bisnis, pria satu ini juga punya segudang kegiatan kemasyarakatan. Sebelum terpilih menjadi ketua umum PB PBSI beberapa waktu lalu, Chairul telah aktif di berbagai organisasi sosial seperti PMI, Komite Kemanusiaan Indonesia, anggota Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia dan sebagainya. "Kini waktu saya lebih dari 50% saya curahkan untuk kegiatan sosial kemasyarakatan," ungkapnya.

Sumber: Tokoh Indonesia, Repro Eksekutif No. 269
your ad here

Bukti Kekuatan Mimpi dan Aksi

CIPUTRA dan Suhardiman. Dua nama yang seolah tidak ada kaitannya sama sekali. Bila mau dikait-kaitkan pun tak lebih karena faktor latar belakang mereka, sama-sama pengusaha. Yang satu skala lokal, satu lagi kaliber nasional.
Namun bila dirunut lebih jauh, keduanya banyak memiliki kesamaan. Keduanya sama-sama pengusaha yang gemar mene¬ntang arus. Berani menanggung resiko dan ambisius. Keduanya juga penuh ide brilian dan inovatif. Tipikal pengusaha sejati. Yang satu tak sungkan mengidolai yang lainnya. Ya, Suhardiman mengidolai Ciputra.
Bang Adi, sapaan karib Suhardiman, merupakan pengusaha Kalbar yang berjaya di bisnis kuliner. Ibarat Midas, setiap bisnis kuliner yang ditekuninya selalu sukses. Sebut nama restoran, kafe atau rumah makan yang populer di Kalbar. Pasti salah satunya kepunyaannya. Warung Dangau, Mak Kundil, Randayan, Ayam Ulakan merupakan nama-nama restoran milik Bang Adi. Belum lagi bila ditelusuri sejumlah nama top lainnya seperti Galaherang, Alila, dan lainnya, nama Bang Adi juga hadir, meski hanya di balik layar.
Pria setengah baya kelahiran Singkawang 3 Juli 1955 ini dengan rasa percaya diri serta usaha yang gigih berjuang membangun bisnisnya. Keistimewaan yang dimilikinya dan lekat hingga kini adalah ia suka menciptakan hal yang baru, mandiri dan tak mudah terpengaruh. Hal ini terbukti ketika ia memutuskan untuk berhenti dari pabrik kayu padahal di sana ia telah mempunyai posisi yang cukup baik sebagai seorang mandor. Terlebih lagi dari pihak keluarganya, terutama sang ibu, tak setuju jika ia keluar dari perusahaan tersebut. Ia tetap gigih berbuat sesuatu yang bisa membuatnya lebih maju. Ia berfikir tak mungkin bisa berkembang jika terus menekuni pekerjaan sebagai seorang mandor.
Dan juga tidak dapat dibantah, di balik kesuksesan seseorang pria, ada seorang wanita di baliknya. Serupa, bang Adi membangun kerajaan bisnisnya dengan dukungan dan kepercayaan penuh sang istri. Ia mengenang saat istrinya memberi dukungan untuk keluar dari pabrik karet. Sang istri hanya meminta 5 ribu rupiah sehari untuk belanja. Dia seolah mendapat suntikan darah segar dari ucapan sang istri tadi. Dia mulai melirik beberapa peluang wirausaha.
Minatnya mengelola bisnis di bidang restoran atau kuliner timbul saat ia mengamati, banyak warung-warung dengan konsep sederhana, tak ada keistemewaan berarti, tapi tetap ramai didatangi pengunjung. Dia merenung, digarap ala kadarnya aja banyak pengunjung, apalagi bila lebih serius. Otak bisnisnya jalan. Ia lalu berpikir bila bisnis ini dikelola dengan konsep yang matang, tentu akan meraup laba. Gong! Ia memulai langkah besarnya dengan membuka Warung Dangau.
Kini bisnis kuliner seakan jamur di musim hujan. Tutup satu, buka seribu. Bermunculan pesaing baru, namun bang Adi tak merasa khawatir sedikit pun. Menurut Adi, dengan adanya persaingan yang sehat malah membuat seseorang lebih kreatif-dan pastinya dapat menggerakkan roda perekonomian.
Kiat-kiat mumpuni lainnya untuk bertahan di bisnis yang selalu di pegangnya ialah: tak pernah putus asa dan tak pernah puas dengan sesuatu yang di dapat. Jangan pernah menganggap sesuatu itu selesai. Terus berkreasi.

Sumber: Jejak Emas Pemuda Kalbar, LP2ES – Borneo Tribune - KNPI
your ad here